tabik, stefanus akim

Kendi, Kandut, Kelong dan Wek Upet

Posted in Personal by pencintabuku on September 17, 2007

Oleh: Stefanus Akim

TIGA bulan lalu anggota keluarga kami bertambah menjadi lima orang. Sebelumnya ada Mamak Alicia, Alicia, Gagas dan aku. Kehadiran candy (dibaca kendi) membuat hari-hari di rumah kami semakin semarak.

Bahkan kendi menjadi hiburan tersendiri bagi kami. Apa yang kami makan, ia juga turut kebagian. Hanya saja ia tak mau makan buah, makanan yang beraroma terlalu pedas serta sayur mentah.

Kendi paling suka makan daging atau nasi yang sudah diberi kuah, dicampur sayur atau lauk. Jika sudah menikmati makanannya, maka ia lupa segala-galanya.

Kami punya panggilan kesayangan untuk Kendi yang biasa diplesetkan menjadi Kandut. Ini kepanjangan dari Kendi Gendut. Gagas bahkan sudah menganggap Kendi adiknya. ”Jangan ngacaulah Kendi, abang mau belajar dulu. Sana’ dengan mamak dulu gi,” kata dia mengusir Kendi yang mulai menggosok-gosokkan kepalanya di betis Gagas.

Apapun yang dimakan Gagas, selalu dibagi dengan Kendi. Kalau biskuitnya hanya sepotong ia rela membelahnya menjadi dua bagian. Kalau ia minum susu, Kendi juga pasti dibaginya.

Alicia lain lagi ia paling sering memanggil kendi dengan Kandut. Namun giliran dikejar ia yang larinya paling laju. Mengunci kamar atau naik di meja.

Saking akrabnya, saat kedua anak kami ini akan pergi sekolah Kendi juga ikut-ikutan repot. Alicia yang rada-rada takut tapi sayang dengan Kendi sampai nangis sebab dikejar hingga keluar gang.

Tujuannya tentu saja ingin ikut. Ia bosan sendirian di rumah. Dari pagi hingga pukul 11 siang baru penghuni pada datang. Belum lagi setelah kembali sekolah Gagas dan Alicia paling-paling sebentar main dengan dia. Selanjutnya ritual rutinitas, makan siang, tidur siang, belajar, main, mandi, nonton kartun sebentar, makan malam dan belajar lagi.

”Sudahlah kalau takut besok kita kasikan jak Kendi dengan yang mau menampungnya,” usulku dengan Gagas dan Alicia sekembalinya mereka dari sekolah.

Ternyata tanggapan keduanya luar biasa.

”Aku jak dikasi dengan orang,” kata Gagas masam. Anak bungsu kami ini matanya mulai berair.

”Jangan. Ndak maok,” Alicia tak kalah sengitnya menolak.

Aku dan mamaknya hanya saling pandang dan senyum-senyum. Ucapanku hanya untuk ngetes reaksi mereka. Ternyata setelah setiap hari bergaul hubungan keakraban itu susah dipisahkan.

Soal menjaga kebersihan, Kendi juga mempunyai kebiasaan sama seperti kami. Ia juga mandi dan shampoan. Namun ia cukup satu kali sehari, jika hari hujan bahkan cukup dua hari sekali. Yang paling rajin memandikannya tentu saja istriku dan dibantu Alicia dan Gagas yang kebagian menyiram atau hanya menggosok-gosokkan busa sabun.

Awalnya, untuk memutuskan menerima Kendi tinggal di rumah kami melalui pertimbangan lama dan dari berbagai aspek. Termasuk hubungan sosial kemasyarakatan dengan para tetangga. Maklum di kompleks kami semuanya Muslim dan kami satu-satunya yang Katolik. Informasi yang aku dengar mereka tak boleh bersentuhan (dijilat) oleh anjing, apalagi jika ia sedang basah. Kami harus menghargai dan mempertimbangkan hal itu dengan matang.

Pertimbangan lain, khawatir Kendi ngamuk. Misalnya jika ia diganggu maka ia akan marah-marah dan urusannya bisa berabe. Pertimbangan positifnya Kendi bisa diminta bantu jaga-jaga rumah, sebab ia paling ingat jika tidur. Suara sedikit saja maka ia akan terjaga, beda dengan kami. ”Mungkin kalau rumah sudah dipagar jauh lebih mudah,” istriku menerawang.

Pembicaraan kami tak ada keputusan dan habis begitu-begitu saja. Namun saat aku pelatihan Jurnalisme Sastrawi di Pantau Foundation 18-29 Juni lalu, sekembalinya aku di Pontianak kulihat Kendi sudah ada di rumah.

”Kasihan, dia terlantar. Dia dua bersaudara. Ibunya tak mau lagi mengasuhnya sehingga kelaparan,” ujar istriku sebelum aku tanya mengapa mengadopsi Kendi.

Saat pertama kali datang, tubuh Kendi dekil dan bau. Dimana-mana ada kutu menempel yang dengan bebas menyedot darahnya. Tubuhnya yang mungil dan kecil makin tampak kecil dan kurus kering. Teriakannya pun sayu dan sesekali hampir seperti bunyi erangan.

Minggu pertama yang dilakukan istriku adalah menghilangkan semua kutu yang menempel di kulitnya. Memberikan asupan makanan. Pernah suatu waktu Kendi jatuh sakit, kami khawatir sekali. Untungnya saat diberi minum parasetamol sirup dan vitamin C sirup ia bugar kembali. Hingga kini ia sehat dan berat badannya terus naik.

Kekhawatiran kami jika Kendi akan menjadi persoalan sosial kemasyarakatan ternyata nyaris tak terbukti. Tetangga sebelah yang biasa kami panggil Mak Puput, sering sekali memberikan makanan untuk Kendi. Begitupun tetangga kami di depan Pak De yang sudah kami angkat jadi Pak RT serta juga menerima dengan baik. Kendi sudah dianggap sebagai bagian dari kompleks kami. Hanya ada satu keluarga yang sempat mewanti-wanti saat Kendi pertama kali pertama bergabung di rumah kami. ”Bahaya tu kalau sudah besar bisa gigit,” katanya.

Namun kini semua sepertinya sudah menerima Kendi dengan baik. Ia sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keluarga dan kompleks kami.

Kendi pernah melakukan tugasnya dengan baik. Pernah suatu malam sebelum bulan puasa, sekitar pukul 03 subuh ada orang yang berjalan di kompleks kami. Orang tersebut lari terbirit-birit setelah mendengar Kendi terbangun dan mengejar.

”Mungkin itu pencuri kak. Sebab kalau orang baik-baik ngape juga jalan malam-malam di kompeks dan pasti bukan orang sini. Kalau orang sini pastilah tak akan lari,” kata Fatimah, menantu pak RT cerita dengan istriku.

Kompleks kami termasuk yang sering disatroni maling. Dari 8 buah rumah yang sudah ada penghuninya, 6 sudah diambil HP-nya oleh pencuri. Termasuk rumah kami, HP adik iparku, Andi Ahmad juga digasak pencuri Juni lalu. Kini setelah pagar kompleks jadi ditambah Kendi yang selalu terjaga kondisinya tampaknya mulai aman.

Sebelum berangkat ke kantor dan menuliskan kisah ini, aku dan istriku memandikan Kendi. Badannya sudah mulai bau amis, sebab sering main ke tanah dan mengejar kucing milik tetangga gang sebelah.

Kami memutuskan untuk mengurung dia di rumah saja sepanjang hari. Kami ingin menjadikan dia rumahan, tidak kelayapan terus. Sementara malam hari diikat dengan rantai di teras depan atau belakang. Tak manusiawi kedengarannya. Apa lagi mengurung Kendi bahkan mengikat dengan rantai di teras rumah dengan cuaca malam yang dingin. Namun itulah dunia Kendi. Kami juga sudah menyiapkan kandang dengan alas kasur tipis bekas Gagas untuk alas tidur Kendi.

Kendi adalah anjing kecil. Anjing jenis kampung berjenis kelamin perempuan. Bulunya berwarna putih dengan belang-belang cokelat. Matanya hitam berkilat dan lidahnya merah dengan senyum manis menunjukkan sebaris gigi yang putih. Kini tubuhnya sudah mulai besar dan sehat, berat badannya terus bertambah.
Dia selalu bercanda dengan kami. Namun sempat terpikir olehku mungkin ia juga merasa rindu dengan keluarganya di kampung. Mungkin ia juga rindu dengan saudaranya, tempat ia mengisi hari-hari dan berkejar-kejaran. Namun sudahlah, kami hanya bisa memberlakukan ia sebagai bagian yang tak terpisahkan dari keluarga kami.

Kendi memiliki panggilan kesayangan Kandut. Gagas memiliki panggilan kesayangan Kelong yang diambil dari nama pendeknya Lilo (Castilo Gagas Panamuan) sedangkan Wek Upet panggilan kesayangan untuk Alicia. Wek Upet masih termasuk keluarga kami di kampung, ia nenek-nenek yang cerewet dan kenes. Alicia juga cerewet dan kenes maka ia kami panggil dengan Wek Upet.□

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: