tabik, stefanus akim

Wastawan…Wastawan…

Posted in Hobby, Jurnalistik, Media by pencintabuku on September 12, 2007

Oleh: Stefanus Akim

Wastawan…wastawan…
Hali…hali latang…
Lebalan latang…
Natat…latang
Ngai Imlek pun, latang…

CITRA wartawan bagi sebagian orang masih jelek. Tukang cari sopoi (minta-minta duit), tukang cari gara-gara, tukang membesar-besarkan masalah, tukang korek-korek borok. Dan sederet kejelekan-kejelekan lain. Cap itu setidaknya masih ada di Pontianak. Meskipun sebenarnya anggapan itu tak semua benar. Sebab masih banyak jurnalis muda yang terus berusaha memperbaiki mutu jurnalisme di tanah Borneo.

Memang menjaga profesi ini sangat sulit dan penuh tantangan. Onak dan duri menghadang setiap langkah. Kadang terinjak dan telapak kaki berdarah hingga infeksi.

Selasa (4/9/07) saat rapat bersama antara pihak sekolah SD Bruder Melati dan para orang tua murid terjadi hal yang kurang mengenakkan. Ini berawal dari ‘rencana’ transparansi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) oleh sekolah yang dinahkodai oleh Drs Bernardus Anen.

Di hadapan para orang tua murid, Bernardus berujar, ia pernah sangat transparan soal dana BOS tahun 2006. Namun ternyata catatan-catatan itu sampai ke tangan ‘wartawan’. ”Ada empat wartawan yang mendatangi saya. Bahkan saya menghadapinya dengan beberapa orang guru dan komite sekolah. Mereka katakan bapak korupsi, ini buktinya antara yang diterima dengan pengeluaran tak sama,” kata Bernardus dengan raut wajah serius.

Sejauh ini sang wartawan yang kebetulan anaknya sekolah di situ menganggap itu kejadian lumrah sebab sebuah standar jurnalistik. Memang tugas wartawan adalah disiplin melakukan verifikasi terhadap data yang diterima dan melakukan konfirmasi. Saat proses pembuatan sebuah berita seorang wartawan mesti membuat cover both side. Artinya memberikan kesempatan yang sama kepada yang menuduh dan tertuduh atau dari yang memiliki data kepada yang dipersangkakan. Jika ini tak dilakukan maka si wartawan salah. Ia semata menjadi corong atau diperalat oleh salah satu pihak atau oleh yang berkepentingan, apalagi yang memperalatnya orang jahat.

Tugas wartawan sebagai anjing penjaga (watch dog). Mesti harus dilakukan, bukan hanya tugas sebagai pemberi informasi, sarana pendidikan dan hiburan. Sebab tanggung jawab wartawan kepada masyarakat bukan kepada pimpinan redaksi, bukan kepada pimpinan perusahaan dan bukan juga kepada pemilik modal apalagi kepada pemasang iklan.

Namun yang tak enak kalimat terakhir dari Bernardus. ”Kami setengah mati menjelaskan kepada dia (‘wartawan’). Namun semuanya UUD, ujung-ujungnya duit,” kata dia tersenyum dan pandangan matanya menyapu semua yang ada di ruangan itu.

Sebagai seorang wartawan tentu saja dia yang hadir di situ malu dan tersetak dengan kalimat tersebut. Apalagi ada banyak orang tua murid yang tahu pekerjaannya wartawan. Mungkin saja mereka akan pikir oh begini rupanya kerjaan wartawan. Lantas mungkin ada yang pikir jaket look army yang dia pakai saat itu hasil dari kerjaan begitu-begituan. Motor RX King yang ditungganginya juga hasil ’wawancara’ dengan narasumber bermasalah. Kemudian biaya sekolah yang cukup mahal untuk dua orang anaknya juga hasil interview dengan pengusaha hitam. Selanjutnya rumah RSS tipe 36 yang sekarang ia tempati juga hasil nyolong. Padahal mana orang tahu bahwa itu hasil keringat istrinya yang rajin menabung dan menyisihkan gajinya setiap kali gajian.

Sang wartawan coba menahan diri dan berbuat biasa-biasa saja. Meskipun hatinya sedang panas dan emosinya mulai naik.

Kata-kata Bernardus terus mengiang dan membuat kosentrasinya hilang. Sayangnya dia tak menyebutkan siapa wartawan itu. Jika disebutkannya dari mana dan wartawan mana tentu saja sang wartawan yang hadir di ruangan itu bisa mencari dan menggebuknya sampai setengah mati. Minimal muntah darah dan menanggalkan giginya hingga berantakan…Sekalian coba jurus boxer yang dulu pernah dipelajari saat kuliah.

Sang wartawan sebenarnya ingin menjawab dan menjelaskan semua biar orang yang hadir di forum itu tahu. Tapi ia sudah terlanjur emosi. Dia yakin jika dalam kondisi seperti itu maka yang akan keluar pasti tak karuan. Kata-kata yang keluar tak terkontrol. Jika ini terjadi maka akan merugikan dirinya dan juga anaknya. Lagi pula, ia tahu, bahwa Bernardus pasti tak tahu bahwa salah seorang orang tua muridnya berprofesi seorang wartwan.

Bernardus juga pasti tidak tahu, sebab hanya 100 langkah dari gedung SD itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA St Paulus FB Arif Budi yang sering sekali ke kantor redaksi Borneo Tribune. Ia memuji-muji hasil karya jusrnalistik terutama rubrik pendidikan yang sengaja disiapkan dua halaman Borneo Tribune untuk melayani kebutuhan ‘dasar’ masyarakat beradab saat ini. Bahkan sang Wakasek juga berencana membawa pengurus OSIS dan redaksi majalah sekolahnya (Majalah Varia) untuk menimba ilmu jurnalistik.

“Ketua yayasan kami, Bruder juga berencana menulis membuat artikel di koran pak,” kata pak Arif, sehari sebelumnya saat si wartawan bertemu secara tak sengaja di lingkungan sekolah. Borneo Tribune, koran yang lahir 19 Mei 2007 lalu, tentu saja akan membuka lebar-lebar pintu itu demi kemajuan pendidikan. Apalagi di tengah miskinnya para Oemar Bakrie membuat tulisan di media massa bahkan masyarakat berpendidikan di Kalbar pun masih jauh dari budaya tulis-menulis.

Media lain di Kalbar, selain Borneo Tribune, pasti juga akan dengan senang hati menerima tulisan-tulisan itu, asalkan tentu saja sesuai standar. Kalau dilihat yang sering membuat karya tulis hanya segelintir orang. Sebut saja Y Priono Pasti dari SMA St Fransiskus Asisi, di tingkat perguruan tinggi yang cukup aktif tentu saja DR Aswandi, Dekan FKIP Untan, serta yang baru-baru ini Dra C Yanti Sudono, Kepala Sekolah Bina Mulia.

Kejadian yang sama memilukannya ternyata juga dirasakan Benedicta. Dua hari lalu ia menunggu jemputan selepas bekerja 8 jam. Untuk membuang rasa bosan, ia duduk di kursi panjang depan rumah sakit. Jam menunjukkan pukul 14.30. Tak lama muncul teman sekantornya. ”Kak suami kakak wartawan mana sih,” tanya Vivi, pengawai UBER, Koperasi Rumah Sakit Santo Antonius.

”Wartawan Borneo Tribune, dulu di Equator,” kata Benedicta singkat. Ia berpikir wajar saja jika ada yang tanya tokh rekan se-kantor.

”Banyak wartawan sering ketemu abang (suami). Kalau ada anaknya yang sakit, atau ada keperluan lain. Biasanya kalau ada kerjaan proyek juga mereka datang dan minta duit,” kata Vivi lagi tanpa tendeng aling-aling. Suami Vivi seorang kontraktor dan masih keluarga pejabat di Kalbar dan Kapuas Hulu serta.

Mungkin karena sudah gerah lama dijemput ditambah kata-kata yang pedas, tensi darah ibu dua anak ini naik.

”Itu wartawan apa lok. Suamimu tanya ndak, ada kartu persnya ndak. Sudah dikonfirmasi belum dengan kantornya. Tak semua wartawan seperti itu, mereka juga punya kode etik. Kalau semua seperti itu sudah kaya lah mereka tu.”

”Vi, mungkin di luar sana hanya perawat yang kerjaan paling suci. Sementara yang lain entahlah. Kontraktor juga seperti itu. Suamiku bilang waktu di Mempawah dia sering diajak menemui kepala dinas, atau diminta ’tolong’ buatkan berita yang membantai pejabat oleh kontraktor. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk dapatkan proyek,” kini perawat yang bertugas di ruang Lidwina, ruang khusus perawatan anak itu berceramah.

Tak lama jemputan datang. Buru-buru dinaikki sadel sepeda motor. Baru saja motor itu merangkak menggilas aspal, si perawat sudah tak sabar menceritakannya dengan suaminya. Namun suaminya hanya senyum-senyum saja. ”Biasalah pemahaman mereka kan sempit. Mereka tak tahu bagaimana sesungguhnya pekerjaan wartawan dan siapa seharusnya yang bisa disebut wartawan,” kata suaminya sambil memegang stang motor, waspada jangan sampai menabrak atau ditabrak.

Sampai di rumah cerita itu masih berlanjut dan sisa-sisa geramnya sepertinya masih belum juga hilang. Belum juga ia meletakkan pantatnya ia kembali berujar. ”Bagaimana sih kalau pekerjaan proyek tuh bang,” tanyanya.

”Yah seperti pekerjaan lain lah ada juga yang jujur dan ada pula yang tidak,”

Dijelaskan suaminya, menurut teman yang juga kontraktor, dana proyek itu tak 100 % terserap untuk pembangunan. Pekerjaan proyek yang paling banter dikerjakan hanya 40 % saja, sisanya 60 % menguap. Dari 100 % nilai proyek, 12 % untuk PPN, 10 % untuk bupati atau walikota, 10 % untuk kepala dinas, kepala bagian, kepala seksi dan pegawai-pegawai yang lain, 3 % untuk panitia lelang, 3 % untuk asosiasi. Sisanya untuk dana ’sosial’. Ini jatah untuk LSM nakal, wartawan nakal atau wastawan-wastawan, tokoh masyarakat, kepala desa, kepala kampung, RT/RW, oknum panitia anggaran DPRD, kegiatan pemuda dan lain-lain. Belum lagi kalau disubkan (dikerjakan) oleh perusahaan lain. Maka yang dapat pertama kali tinggal ongkang-ongkang kaki, sebab 10 % bahkan 15 % dari nilai proyek akan masuk di kantongnya. Sisanya baru dikerjakan dan pemborong atau kontraktor tentu saja ingin juga untung.

Maka akan terjadilah campuran pasir lebih banyak dari semen, ketebalan aspal dikurangi, aspal dicampur dengan ban bekas. Batu menggunakan jenis ’kemenyan’ bukan jenis batu kali pecahan. Atau kalau bangunan menggunakan kelas C padahal syaratnya kelas A. Kayu semestinya ukuran 8 x 8 mabang atau bengkirai cukup digantikan 7 x 7 dengan kayu rengas.

“Tapi itu kata orang dan kontraktornya sendiri yang bilang. Aku tak tahu persis sebab kan tak pernah kerja proyek,” kata si wartawan.

Dari omongan santai kedua suami-istri itu banyak hal yang diketahui. Misalnya dua tahun silam si perawat mencuri dengar, Adrianus Senen, anggota Fraksi Golkar DPRD Kalbar berujar untuk ’upah’ menulis berita wartawan cukup 50 ribu saja. Saat itu Senen sedang menunggu anaknya yang sakit.

Suaminya juga menceritakan jika temannya yang juga wartawan pernah marah-marah kepada anggota DPRD Kalbar, Setyo Gunawan namanya. Ia politisi Partai Demokrat. Pasalnya, Setyo pernah ngomong jika ia menyogok wartawan untuk mendapatkan informasi siapa-siapa rekan kerjanya dari kantor tempat dia bekerja sebelum jadi dewan aktif di parpol. Setyo sebelumnya bekerja sebagai salah satu manager di PT Duta Rendra Mulia (DRM). Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kayu lapis.

Teman si wartawan itu adalah Asriyadi Aleksander Mering. Saat itu ia mengasuh rubrik Interaktif di Harian Equator dan kebetulan tulisan tersebut kebetulan terbit di halaman yang diasuhnya. “Aku marah-marah. Kutanyakan siapa wartawannya yang bocorkan hal tersebut. Ia tak menjawab, rasa mau aku tinju jak. Pasti dia mengada-ada,” geram Mering.

Orang di luar profesi ini pasti tak banyak tahu bagaimana para jurnalis berjuang mempertahankan idealisme di tengah keterpurukan ekonomi global dan gaji para ‘kuli disket’ yang termurah di Asia. Bandingkan misalnya sebuah tulisan panjang, berisi, dan bermutu milik salah seorang penulis terbaik di Indonesia yang dimuat di harian The Star (Kuala Lumpur) dihargai Rp30 juta. Dan tentu saja itu jangan dibandingkan dengan situasi di Kalbar, butuh dua tahun untuk dapat duit sebanyak itu.

Kisah-kisah memilukan dan mendeskreditkan wartawan sebenarnya masih banyak. Di sisi lain banyak juga kisah mulia yang tak diketahui orang banyak. Misalnya bagaimana wartawan ‘menyelamatkan’ APBD dengan berita-beritanya agar tepat sasaran dan tak dihambur-hamburan. Yang paling sederhana mungkin, bagaimana wartawan dikejar-lejar deadline agar besok hari masyarakat bisa membaca koran pagi-pagi sekali. Belum lagi serangkaian ‘ritual’ yang harus dilalui, tugas menumpuk, indtimidasi, telepon ancaman, dan sebagainya. Tapi, biarkan sajalah…Itu adalah resiko sebuah profesi.

Juru kabar di tanah Borneo tampaknya harus bekerja keras untuk menghilangkan stigma tersebut. Jika tidak maka anggapan miring itu akan terus menjadi bayang-bayang yang menakutkan. Seperti yang diucapkan Pak Akiau, seorang pengusaha etnis Cina di Sungai Pinyuh berikut ini.

”Wastawan…wastawan. hali-hali latang. Lebalan latang, natat latang, ngai Imlek pun latang.”

Arti ucapan pak Akiau, wartawan-wartawan. Setiap hari datang. Lebaran datang, natal datang, saya Imlek pun datang.

Kita tahu maksudnya apa. Apa lagi kalau bukan minta duit. Meskipun kita juga tahu tak semua melakukan itu. Biasanya WTS alias wartawan tanpa surat kabar atau wartawan kaki lima lah yang membuat profesi luhur itu tercemar. Saat ini kita sebut saja lah mereka wastawan bukan wartawan. Si wartawan yang menulis kisah ini adalah aku, yang mengisi hari-hari dengan merangkai kata-kata…Semoga kalimat-kalimat berikut tak terdengar lagi.

Wastawan…wastawan…
Hali…hali latang…
Lebalan latang…
Natat…latang
Ngai Imlek pun, latang…*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: