tabik, stefanus akim

Sudagung, Mengurai Pertikaian Madura-Dayak di Kalbar

Posted in Pendidikan, sosial by pencintabuku on Juli 29, 2007

Oleh: Stefanus Akim

Sejak berdiri hingga sekarang Untan sudah memiliki 38 guru besar atau profesor. Dari jumlah tersebut delapan diantaranya sudah meninggal dunia. Mereka adalah Prof H Mahmud Akil SH (Hukum), Prof Dr Syamsudin Djahmat M.Sc dan Prof Drs M Landawe (Ekonomi), Prof Dr Hendro Suroyo Sudagung (Fisipol), Prof Dr Mochtaruddin M.Pd, Prof Drs H Jawadi Hasid, Prof Dr H Azwar (FKIP) dan Prof Ir Sakunto MS (Kehutanan).

Mereka berkarya dengan ilmu masing-masing untuk kemajuan dunia pendidikan di Universitas Tanjungpura dan masyarakat Kalbar. Kini, meskipun mereka sudah meninggal namun karya mereka tentu saja masih dikenang oleh generasi saat ini. Para profesor itu tentu saja menghasilkan karya-karya ilmiah yang menyumbangkan kemajuan untuk dunia pendidikan utamanya di Kalbar.

Prof H Mahmud Akil SH, putra Kalbar kelahiran Darit Kabupaten Landak ini pernah menjabat sebagai Rektor Untan tahun 1991-1999. Sebelumnya selama dua periode menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Untan. Sebelum era reformasi, Mahmud Akil pernah mencalonkan diri untuk menjadi gubernur Kalbar periode 1998-2003. Namun akhirnya yang terpilih oleh H Aspar Aswin.

Sumbangan pemikiran, baik berupa hasil penelitian maupun bentuk lain tentu saja juga disumbangkan oleh Prof Dr Syamsudin Djahmat M.Sc yang mengabdikan dirinya di Fakultas Ekonomi Untan, Prof Drs M Landawe juga di Fakultas Ekonomi, Prof Dr Mochtaruddin M.Pd, Prof Drs H Jawadi Hasid serta Prof Dr H Azwar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Termasuklah dan Prof Ir Sakunto MS di Fakultas Kehutanan.

Hendro Suroyo Sudagung misalnya melakukan penelitian tentang pertikaian etnik Kalbar. Ia menulis soal Migrasi Swakarsa Etnis Madura ke Kalimantan Barat yang diterbitkan oleh Institut Studi Arus Informasi (ISAI) April 2001.

Guru besar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Untan ini dilahirkan di Ngawi, Jawa Timur 16 Mei 1933 dan wafat 2 September 1998 di Surabaya. Ia meninggalkan seorang istri dan tujuh orang anak.

Ia menuntut ilmu di SMP di Ngawi, masuk SMA Bagian B/Ilmu Pasti (jurusan IPA) di Surabaya. Ia kemudian menimba ilmu di Universitas Gadjah Mada (UGM). Yogyakarta. Ia mendapatkan tiga gelar sarjana muda dari tiga fakultas, masing-masing Hukum, Ekonomi, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol). Gelar sarjana penuh diraihnya dari jurusan Fisipol UGM tahun 1962. Gelar doktor Sosiologi diraihnya di almamaternya di UGM dengan disertasi berjudul: Migrasi Swakarsa Orang Madura di Kalimantan Barat. Hendro meniti karir sebagai dosen Fisipol Universitas Tanjugpura (Untan) Pontianak. Ia pernah menjadi dekan Fisipol Untan (1968-1971 dan 1975-1979). Kemudian menjadi Pembantu Rektor I (1991-1994). Jabatan Guru Besar Sosiologi disandangnya pada 1987 dengan pidato pengukuhan berjudul: Pembinaan Bangsa dan Karakter Bangsa Melalui Hubungan Antar Suku Bangsa.

Hasil penelitian Sudagung ini banyak dikutip oleh penulis atau peneliti yanga akan menulis tentang konflik etnik di Kalbar. Bahkan sudah menjadi semacam rujukan, sebab bisa dikatakan dia lah yang secara serius melakukan penelitian tersebut. Penelitian tak hanya dilakukan di Pontianak namun juga di seluruh kabupaten yang ada saat itu. Sudagung juga melakukan penelitian di Jawa Timur yaitu di Sampang dan Bangkalan Madura.

Studi yang dilakukan oleh Sudagung bertujuan untuk menemukan pola migrasi swakarsa orang Madura. Pola migrasi swakarsa yang dimaksud meliputi proses perpindahan mulai dari tempat asal hingga tujuan. Termasuk didalamnya alat angkut dan sarana saat itu, pembiayaan dan lain-lainnya. Selanjutnya cara-cara mereka memperoleh pekerjaan, status sosial ekonomi orang Madura yang bermigrasi dan apa yang menyebabkan migrasi tersebut.

Sudagung menulis, orang Madura sejak lama mempunyai kebiasaan bermigrasi melampaui wilayah etnisitasnya, baik secara perorangan maupun kelompok. Van Gennep memperkirakan migrasi itu telah berlangsung sejak abad ke-13. Namun pengetahuan mengenai penyebaran suku Madura masih sangat terbatas.

Di zaman pemerintahan Hindia Belanda, trasmigrasi terhadap orang Madura telah dilakukan empat kali. Saat itu transmigrasi disebut kolonialisasi dan orang Madura pertama kali dikirim ke Madurejo, Kalimantan Selatan. Pada tahun 1938 dilakukan dua kali kolonisasi, pertama sebanyak 100 keluarga dan kedua 200 keluarga. Tahun berikutnya kembali dikolonisasikan dua rombongan. Yang pertama berjumlah 194 keluarga, kedua 116 keluarga.

*Edisi Cetak Borneo Tribune 29 Juli 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: