tabik, stefanus akim

Mulai Kursus Narrative Reporting

Posted in Hobby, Jurnalistik by pencintabuku on Juni 18, 2007

Oleh: Stefanus Akim

Sabtu, 16 Juni 2007 pukul 08.00 dari Bandara Supadio Pontianak aku dan Rozanna wartawan Utusan Sarawak terbang ke Jakarta. Menggunakan pesawat Batavia, kami tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta.

Di bandara kami berdua diantar Asriyadi Alexander hingga bus pesawat Batavia. “Trims bos sudah ngantar. Maaf banyak meninggalkan pekerjaan buat kantor, diantaranya beban redaktur yang aku tinggalkan. Piss…hahaha”.

Sekitar 45 menit penerbangan, aku dan Nana tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Sempat ngeri juga, sebab beberapa kali pesawat goyang. Meskipun cuaca bagus. Namun untuk menghilangkan rasa khawatir aku memaksa untuk memejamkan mata yang tak ngantuk. Terus terang, aku takut naik pesawat tapi apa boleh buat ini harus dilakukan. Sebab kapan lagi mau belajar jurnalistik, di luar Kalbar lagi. Meskipun ini bukan penerbangan pertama buat aku. Kalau tidak salah ini penerbangan yang kesepuluh. Pertama sekali Pontianak-Kucing, Malaysia pulang pergi, Pontianak-Ketapang, sisanya Jakarta-Pontianak.

Dari semua pengalaman naik pesawat, ke Kabupaten Ketapang yang paling spot jantung. Pesawatnya kecil type ATR-42-300 dengan 46 tempat duduk yang dikelola PT Dirgantara Air Service (DAS). Suaranya nyaring memekakan telinga dan goyangannya, wah jangan tanya. Namun, puji Tuhan, selamat juga sampai tujuan. Bahkan sepengetahuanku belum ada kecelakaan yang menimpa penerbangan jalur ini.

***
“Selamat datang di Jakarta,” kata Nana agak berteriak

“Sudah pernahkan ke Jakarta,” tanyaku

“Belum juga, baru inilah,” kata Nana sambil membetulkan letak kacamata minusnya saat kami mulai turun dari pesawat.

Meskipun terlihat kelelahan, ia tampak bersemangat. Di Pontianak sebelum berangkat 45 menit lalu aku sudah SMS mbak Dayu Pratiwi mengabari jika kami akan berangkat.

“Oke, hati-hati mas Akim. Saya tunggu di apartemen mas Andreas ya,” jawabnya di seberang pulau.

“Ia lah batinku. Rumah Andreas Harsono di Permata Senayan-samping Kompas. Dimanakah itu,” batinku. Ah biarlah ada taxi toh, tinggal tunjukkan alamat pura-pura pintar dan busungkan dada (busungkan perut masuknya) biar tak dikadali.

Sebenarnya ‘Mbak Dayu yang baik’ pada email-email sebelumnya berjanji akan menjemput di bandara. Tapi belakangan dia batal. Aku maklum, sebab banyak yang harus diurus, mengingat pesertanya banyak 16 orang dari seluruh penjuru tanah air. Tentu saja masih banyak yang butuh bantuan daripada kami.

Meskipun demikian, ia sudah memberikan ‘peta’ rute yang harus kami tempuh. Kubuka ransel cari catatan. Kampret catatannya ketinggalan, aku ingat ternyata aku simpan di atas tv di rumah.

Ini nih emailnya mbak Dayu yang dikirim 14 Jun 2007 pukul 10:29.

Mas Akim yang baik,

Sebelumnya saya minta maaf karena saya tidak bisa menjemput ke bandara karena ada yang harus saya kerjakan. Saya akan menunggu kedatangan di tempat Mas Andreas (Apartemen Pemata Senayan-samping Kompas) karena lebih mudah dicapai. Namun saya akan memberikan rute perjalanan dari bandara.

1. Naik bus DAMRI – LEBAK BULUS
bilang saja ke kondektur turunnya di halte belakang MPR/halte Palmerah. Saya akan tunggu di apartemen permata senayan-samping Kompas.

2. Naik Taxi
saya sarankan naik taxi Blue Bird (warna biru) atau taxi Express (warna putih). Taxi Express lebih murah karena masih menggunakan tarif lama.
dari bandara naik tol slipi lalu keluar melalui tol Senayan – TVRI. Kemudian dari lampu merah Hotel Mulia ambil yang ke kanan arah Pasar Palmerah (nyebrang rel kereta api).
Saya akan tunggu di apartemen permata senayan-samping kompas

Jika sudah sampai atau mendekati lokasi, bisa sms atau telpon saya, saya akan menunggu di luar di tempat yang mudah di lihat. Setelah itu kita sama-sama menuju tempat pemondokan.

Bahan bacaan akan saya berikan ditempat pemondokan agar bisa dibaca terlebih dahulu sebelum kelas dimulai.

Saya kira itu saja, terimakasih

Salam hangat,
Dayu

Harusnya tak kebingungan toh, kan petanya sudah lengkah. Tapi dasar sial ketinggalan pula. Buka HP coba telepon dia, sial tak ada sinyal. Masih ada cara, buka menu Pengaturan, Pengaturan Telepon, Pilih Jaringan, pilih otomatis. Tit. gagal. Coba dari awal pilih Manual. Gagal. Tak kurang 100 kali, bengkak jempol tak berhasil juga. Kampret. Cuka minyak, orang kebingungan teknologi macet. Dasar, memang HP butut. Pantasan Nokia 6310 keluaran tanggal 03-09-2002.

Ah sudahlah, kutanya Nana ingat dimana kita dijemput. “Di Apartemen Permata Senayan Pal Merah samping Kompas,” katanya.

Ya udahlah, daripada malu dengan teman dari jiran baik coba saja. Kucari taksi sesuai petunjuk Dayu. Dapat. Tawar-menawar harga dan setuju Rp 100 ribu.

Untuk mengilangkan pucat, aku sok akrab dengan sopir taksi yang mengaku dari Tanggerang. Tiba-tiba saat habis bahan, ia berujar. “Wah HP-nya bagus pak. Yang kayak gini payah nyari sudah antik,” kata dia.

“Ah bapak bercanda,” aku dongkol, kalau aku punya dua sudah kulemparkan ini barang ke muka bapak pikir aku.

“Benar lho pak. Menteri-menteri banyak yang pakai kayak gini,” ah pikirku, berarti aku sama dengan menteri donk. Minimal sama dengan M Akil Mochtar, sebab aku pernah lihat ia pakai yang kayak gini juga. Hik…hik…hik…

Pandai sekali bapak ini buat hati dingin.

Saat-saat seperti ini aku ingat dengan Aleks dan Hanoto di kantor. “Sudahlah kim, nanti di Roxy kamu tukar tambah saja HP-mu itu,” kata dia.

“Berapa orang mau beli, paling-paling 100 ribu,” ujarku.

“Hik…hik…,” kata Hanoto. “Seratus ribu jak tuh bang,” ledek wartawan teknologi ini

Sekitar setengah jam, kami tiba juga di depan apartemen Andreas. Nana berinisiatif menelepon Mbak Dayu. “Dia bilang tunggu saja dibawah, mau dijemput,” kami pun duduk di sofa setelah sebelumnya izin dengan satpam.

“Hai…saya Dayu,” perempuan berkerudung itu keluar dari pintu kaca.

Oh ini rupanya Mbak Dayu. Cukup manis, sama seperti di telepon dan yang pasti ramah. “Jangan marah ya!”

Kami diajaknya ke lantai 18 di apartemen Andreas Harsono dan Sapariah Harsono. Seperti biasa mereka berdua sangat hangat menyambut kami. Bang Andreas juga memperkenalkan kami dengan dua wartawan dari Bisnis Indonesia.

Sambil duduk santai, Andreas yang selalu mengisi setiap kesempatan dengan diskusi lalu diskusi hangat dan mengalir. Aku dan Nana hanya banyak melongo dan menjadi pendengar setia, sebab baru saja lepas dari ‘ketegangan’ Ha…

Mbak Ari (panggilan akrab untuk Safariah) yang lahir di Pontianak itu pun menyiapkan makan siang buat kami. Ia bersama Mbak Rina orang Pantau dan Dayu tentu saja. Selesai, kami makan bersama. Istimewanya ada cabe Flores yang pedasnya minta ampun.

Menjelang Magrib saya diantar duluan oleh Dayu di tempat kost yang hanya berjarank 2 menit jalan kaki dari Pantau. Sementara Nana masih menunggu di apartemen bang Andreas, sebab teman se-kost-nya, mbak Endah Imawati belum tiba.

Tapi beruntung saat ini kami sudah ikut intensif pelatihan Jurnalisme Sastrawi angkatan ke-12. Ada 16 teman dari berbagai media yang ikut. Seperti ditulis Dayu mereka adalah: Aditya Heru Wardhana, video journalist di Trans TV sekaligus aktif di Aliansi Jurnalis Independen cabang Jakarta, Adriana Sri Adhiati, bekerja untuk Down to Earth sebagai researcher, campaigner and websiter co-administrator (part-time) di London. Ada juga Asep Mohammad BS, sejak tahun 2000 bergabung dengan majalah Swa sebagai wartawan. Edy Purnomo, dari harian Investor Daily, Emmy Kuswandari dari harian sore Sinar Harapan.

Dari Jawa Timur ada Endah Imawati, dari harian Surya Surabaya, dari Flores ada Frans Obon dari harian Flores Pos. Dari Jakarta ada Frans S. Imung, dari majalah Investor, Hillarius U Gani, dari Media Indonesia, juga ada Lisa Suroso, redaktur majalah Suara Baru yang juga pengurus pusat Perhimpunan Indonesia Tionghoa bagian humas. Dia banyak terlibat dalam kegiatan sosial organisasinya dalam bencana alam di Aceh dan Flores.

Kemudian tentu saja Rozzana Ahmad Rony, peserta satu-satunya peserta dari Malaysia. Dari Batam ada Said Abdullah Dahlawi, dari harian Sijori Mandiri, Batam, ada juga Sunaryo Adhiatmoko, yang aktif menulis untuk Lembar Ziswaf di Republika yang terbit setiap Jumat selain sebagai Public Relations Manajer Dompet Dhuafa Republika.

Ada juga Yayan Ahdiat, redaktur pelaksana View Magazine. Memiliki banyak pengalaman sejak tahun 1989. diantaranya menulis di Suara Pembaruan, Pelita, Jayakarta, Berita Buana, Suara Karya, Republika dan Media Indonesia dan Majalah VISTA-TV.

Ada aktivis LSM, Yuyun Wahyuningrum, mahasiswa penerima beasiswa di Universitas Mahidol, Thailand mengambil jurusan Human Rights and Social Development.

Sungguh sebuah tempat belajar yang menyenangkan dan teman-teman belajar yang juga menyenagkan serta kritis dan cerdas. Media dari Kalbar terutama kami Borneo Tribune harus belajar jika tak ingin jadi kambing congek atau katak dalam tempurung. *

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. dm rizal said, on Oktober 28, 2008 at 8:56 am

    sori,m pengen liat-liat, kok engga da yang log in…
    dah engga aktif yaa…. lokasi dijakartanya dimana….

  2. dm rizal said, on Oktober 28, 2008 at 8:57 am

    sori,om pengen liat-liat, kok engga da yang log in…
    dah engga aktif yaa…. lokasi dijakartanya dimana….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: