tabik, stefanus akim

Pantai Kijing

Posted in Hobby by pencintabuku on Mei 10, 2007

Oleh: Stefanus Akim

Lelah menggelar pelatihan calon reporter Borneo Tribune selama dua minggu, kami para redaktur beserta keluarga, keluarga besar Borneo Tribune dan 10 reporter berlibur di Pantai Kijing. Selain menikmati indahnya pasir putih, kesempatan ini juga dimanfatkan untuk outbond bagi para wartawan, redaktur dan karyawan pada Minggu 6 Mei.

Aku sendiri mengajak serta kedua anakku, Alicia Gita Bamula yang kini berusia 6,3 tahun dan adiknya Castilo Gagas Panamuan (Lilo), pada 31 Juli mendatang genap 6 tahun.

Alicia dan Lilo sejak tiga hari sudah menyiapkan diri dan sangat bergairah mendengar akan ada kegiatan di Pantai Kijing. Usai menjemput di sekolah mereka, TK Bruder Kanisius mereka berdua selalu bertanya kapan berangkat. “Minggu. Besok,” kata ku sambil menstarter RX-King merah tahun 2003.

“Hore, kita main pasir ya pak. Nanti bapak kami kubur dengan pasir,” Lilo, mengingat liburan kami di Pantai Samudera setahun lalu.

“Kita bawa mainan atau beli pak? Kayaknya bawalah kan bapak tak ada duit,” timpal Alicia, mulai merayu.

Putri ku yang satu ini hari ini kunilai agak lain. Bisanya ia akan merengek-rengek minta belikan mainan atau sesuatu yang diinginkannya. Mungkin daya tarik Pantai Kijing lah yang membuat ia ‘tampil beda’.

Malam harinya giliran aku yang sibuk menyiapkan segala sesuatunya, sebab, Benedicta istriku yang perawat Rumah Sakit Santo Antonius, giliran piket pagi. Mulai membeli bermacam-macam wafer, minuman kaleng, roti tawar dan roti manis serta tak ketinggalan minuman bersoda dan air mineral.

Satu buah kantong kresek hitam penuh kujinjing saat keluar dari mini market Primadona di Jalan Tabrani Ahmad saat jarum jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Sepeda motor dua tak itu meraung saat kupacu degan kecepatan cukup tinggi menuju kediamanku di Jalan Tabrani Ahmad, Perumahan Pondok Mulia A6. Saat pintu dibuka ternyata mereka belum tidur dan menyambut dengan senyum ceria.

Pukul 05.00 WIB, jam weker ‘berteriak’ membangunkan kami sekeluarga. Setelah beres-beres, memasukkan makanan ringan dan minuman dalam ransel, serta masing-masing sepasang pakaian ganti kami menuju Parit Haji Husin II dimana bus dan sebagian besar peserta sudah menunggu.

Kedua anakku sangat menyukai perjalanan ini. Sepanjang perjalanan bernyanyi dan bersenda gurau. Apalagi ada Lindu, putri Aleksander duduk sama-sama mereka.

Taman wisata Pantai Kijing berjarak sekitar 70 KM dari Pontianak. Terletak di Desa Sungai Kunyit, Kecamatan Sungai Kunyit Kabupaten Pontianak dan hanya berjarak 15 KM dari Mempawah arah Kota Singkawang, ibu kota Kabupaten Pontianak.

Pantai Kijing dahulu menjadi salah satu tujuan wisata utama masyarakat Kalimantan Barat. Sebab dengan pasir putih, pohon kelapa berbaris rapi. Kerang dan binatang laut memiliki keindahan yang tak dapat dilukiskan. Jika mengarahkan pandangan ke laut, Pulau Temajo yang rencananya akan dijadikan pelabuhan internasional namun tak jadi-jadi terlihat jelas. Untuk menuju Pulau Temajo dapat menggunakan speed boat atau motor kelotok yang mengangkut penumpang dari Sungai Kunyit. Dengan merogoh uang Rp 50 hingga Rp 150 ribu, kita akan menikmati indahnya Pulau Temajo yang airnya sangat jernih dan pasir pantai yang lembut. Sungguh taman Eden yang ada di abad 21.

Di Pasir Panjang Lilo, Alicia serta Lindu bermain pasir. Yang lain masih di mobil, mereka sudah melompat dan langsung main di pinggir pantai. Sayang airnya keruh tak sejernih Pantai Samudera atau Pantai Kijing di Singkawang. Penyebabnya karena Kijing berada dalam posisi sebuah teluk, sementara di depannya ada Pulau Temajo yang mengakibatkan air kurang mengalir dengan bebas.

Bau anyir ikan, menusuk hidung. Hawa panas laut, menerpa kulit dan terik matahari membuat wajah terasa terbakar. Meskipun demikian anak-anak tampak menikmati wisata keluarga besar Harian Borneo Tribune kali pertama. Saking asiknya bermain, pakaian Lilo dan Alicia harus diganti di WC yang sekali masuk bayar Rp 1.000.

Kecapekan seakan tak terasa di tubuh mereka yang mungil. Bosan bekejaran, memungkut sisa kerang yang mati atau melempar batu ke laut.

Sementara para wartawan, redaktur dan karyawan melakukan outbond bersama yang dipandu Safitri Rayuni. Mulai dari lempar bola, blended (tutup mata) hingga main bola bersama. Nuris pada bagian terakir memberikan sedikit wejangan kepada para wartawan. Diantaranya pelarangan menerima amplop dari narasumber agar tidak memengaruhi berita.

Alumnus Fakultas Pertanian Untan yang baru saja usai menunaikan ibadah haji ini memang jago untuk memberikan motivasi dan suport untuk teman-teman. Pengalaman saat kuliah diantaranya di HMI dan Ketua Mimbar Untan, sebuah penerbitan kampus, ternyata saat bermanfaat. Ditambah sifat kerja keras dan selalu belajar membuatnya sangat wajar jika didaulat sebagai Pimpinan Redaksi.

Pukul 15.00, setelah semua acara selesai kami berkemas dan kembali. Dalam perjalanan pulang, Alicia dan Lilo tertidur. Bapaknya juga ngantuk, namun karena harus memangku Lilo maka rasa kantuk pun hilang. *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: